Kontak Info Lain dan Alamat:

Kunjungi Blog kami: http://skbdenpasar.blogspot.com
Facebook:
skbkotadps@yahoo.co.id
Vidio:
Youtube SKB Kota Denpasar
Email: skbkotadps@yahoo.co.id dan skb.denpasar@gmail.com
Telp: (0361) 461892
Alamat: Jl. Trengguli I Tembau-Penatih Denpasar Timur - Bali

Selasa, 02 Oktober 2012

MONEV BPPAUDNI REGIONAL V DI UPT SKB DINAS DIKPORA KOTA DENPASAR

Pada hari Selasa tanggal 02 Oktober 2012 BPPAUDNI Regional V Mataram melakukan Monitoring dan Evaluasi (Monev) di UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar. Petugas yang melakukan monev adalah Bapak Haji Khairudin, SH dan Ibu Erna Isis. Adapun yang di monev adalah program-program Percontohan Kursus dan Pelatihan yang dilaksanakan di SKB Kota Denpasar pada tahun 2012 ini. Mereka tiba di UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar pada jam 08.30 wita dan diterima oleh Kepala UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar Ni Made Sugiantini, S.Pd.M.Pd.H beserta Pamong Belajar terutama sekali para pengelola Program Percontohan dan Kursus. Selain itu juga didampingi oleh Kasubag Tata Usaha Ni Made Susilawati. Dalam pemaparannya, kepala UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan Program Percontohan dan Kursus. “Kami sangat mengharapkan agar program-program percontohan dan terutama kursus-kursus seperti kursus kecantikan dan membordir ini programnya dapat berkesinambungan dan tidak hanya sampai disini saja. Misalnya seperti Tata Kecantikan yang kita laksanakan ini kan baru tingkat dasar, sedangkan dalam pasar kerja tentu pemakai tenaga kerja seperti salon mengharapkan mereka yang direkrut untuk dipekrjakan di salonnya memiliki kompetensi yang lebih dari pada ini” demikian yang beliau sampaikan kepada team monev. Bapak Haji Khairudin akan memperjuangkan apa yang telah dipaparkan dan disampaikan oleh Kepala SKB Denpasar. “Saya sudah melihat bahwa SKB ini sudah lebih representatif keadaannya kalau dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Dengan kondisi seperti sekarang ini SKB ini sudah bagus. Tinggal dikembangkan saja untuk kedepannya. Saya mengharapkan nantinya SKB ini dapat menjadi contoh bagi SKB-SKB yang ada di Propinsi Bali. Hal ini sudah selayaknya karena SKB Kota Denpasar ini berada di Ibu Kota Propinsi Bali. Untuk itu SKB Kota Denpasar perlu lebih membenahkan diri baik mengenai Program-programnya maupun pembenahan di bidang fisik dari gedung ini”. Demikian yang beliau sampaikan. Beliau juga tidak henti-hentinya selalu memberikan motivasi terutama sekali terhadap para Pamong Belajar yang berada di wilayah kerja BPPAUDNI Regional V Bali dan NTB. Motovasi beliau senantiasa membuat para Pamong Belajar lebih termotivasi untuk membenahi dan meningkatkan kapasitasnya sehingga insan PNF di Bali dan NTB semakin bergairah dalam melaksanakan tugasnya demi mengabdikan dirinya pada Nusa dan Bangsa terutama Pendidikan Non Formal dan Informal di kawasan Bali dan NTB. Selanjutnya kedua petugas monev meninjau salah satu program percontohan yakni PAUD Harapan Bangsa milik UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar. Sedangkan program-program percontohan yang lainnya kegiatannya tidak dilaksanakan pada pagi dan siang hari. Oleh karena itu, atas undangan Kepala SKB Kota Denpasar Bapak Haji Khairudin, SH beserta Ibu Erna Isis rencananya akan mengunjungi program percontohan Kursus dan Pelatihan Tata Kecantikan Kulit Tingkat Dasar yang dilaksanakan mulai jam 18.00 wita sampai jam 21.00 wita di UPT SKB Disdikpora Kota Denpasar. “Nanti Bapak Haji akan kami jadikan model untuk di massage oleh peserta kursus kami” kata Kepala SKB Kota Denpasar dengan guyonan. “Boleh...boleh saya siap kok” balas beliau dengan tidak kalah guyonnya. Sementara itu Ibu Erna Isis setelah ikut memantau KBM PAUD langsung melakukan monitoring dan evaluasi terhadap administrasi program Percontohan PAUD Terpadu, P2TK, PKH Tata Kecantikan Kulit Tingkat Dasar, Kursus Bordir, dan Keaksaraan Fungsional. Selanjutnya pada hari Rabu tanggal 3 Oktober 2012 rencananya tem monev ini juga akan mengadakan pertemuan dengan Kepala-kepala SKB se Propinsi bali untuk membahas lebih lanjut tentang Program percontohan dan Kursus ini (smt).

Senin, 01 Oktober 2012

CURAHAN HATI OPERATOR SIM PAUDNI SKB KOTA DENPASAR

Oleh : Anak Agung Ngurah Sumantri Operator SIM PAUDNI UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar
Tugas saya sebagai operator SIM PAUDNI ternyata bukanlah hanya mengolah data kemudian mengentrynya ke sebuah aplikasi pendataan. Apakah kemudian akan ada suatu program aplikasi data yang baru lagi? Ya semua itu tentu masalah teknis yang biasanya selama ini dibuatkan oleh yang “diatas”. Dan mengenai data ini ternyata bukanlah soal sederatan angka-angka,tabel-tabel serta grafik. Kalau hanya seperti itu datanya katanya masih mentah. “Data Anda belum bisa berbicara” kata para nara sumber setiap kami mendapatkan pelatihan ataupun workshop pendataan SIM PAUDNI ( tahun-tahun sebelum 2012 ini disebut SIM PNFI). Ah ternyata bukan hanya bulan saja yang bisa ngomong menurut Dul Sumbang, tapi Data yang diolah operator SIM PAUDNI pun kudu bisa ngomong. Nah agar data SIM PAUDNI ini bisa ngomong dan bermakna meski diolah lebih lanjut. Dideskripsikan demikian kata mereka, kemudian dipublikasikan. Untuk mempublikasikan data-data ini tentunya diperlukan media atau alat sehingga dapat disuguhkan baik itu kepada penentu kebijaksanaan yang di daerah semisal Bupati/Walikota, DPRD dsbnya. Atau di pusat seperti Mendikbud kemudian meruntut kebawah seperti Dirjen dstnya sesuai dengan strukturalnya. Kemudian mitra orisontal dengan lembaga negara terkait semisal DPR eh semoga ga salah nih penguraiannya. Kalau salah dimaafin aja). Ah sudahlah kok jadi tinggi-tinggi amat pemaparannya? Kembali lagi ke masalah saya sebagai operator SIM PAUDNI ini. Nah kami dari operator SIM PAUDNI saban tahun selalu di “up date”. Dua tiga tahun yang lampau bahkan beberapa kali dalam setahun kami selalu di up grading bahkan pada masa itu begitu banyaknya kami dibagian pendataan SKB ini dijejali barbagai data. Hal ini karena hampir setiap lembaga mengeluarkan model format data beserta aplikasinya. Mungkin karena adanya keluhan serta masih simpang siurnya masalah data di pendidikan non formal dan informal ini, pada tahun-tahun berikutnya format pendataan beserta aplikasinya semakin mengerucut dan formatnya kian simpel. Kembali pada masalah pendataan yang mestinya bisa berbicara ini. Yang namanya data ternyata bukanlah masalah deretan angka-angka, lajur tabel-tabel serta grafik. Data selain berbentuk angka-angka,tabel-tabel, serta grafik ternyata juga bisa berbentuk gambar/foto, gambar bergerak dan bersuara (Auduio-visual) seperti vidio dsbnya. Mengenai data yang bisa bicara yang selanjutnya tentu selain untuk kepentingan yang “diatas” guna dapat diapakai mengambil suatu keputusan serta kebijakan berkaitan dengan lembaga yang memberikan data. Dengan demikian data yang diolah itu agar dapat disuguhkan tidak saja kepada para pengambil keputusan dan penentu kebijakan tapi juga kepada masyarakat karena pada zaman ini berkaitan dengan masalah keterbukaan. Masyarakat berhak juga mengetahui tentang who's how lembaga pemerintah itu? Apa saja yang dikerjakan? dari mana anggarannya dan peruntukannya? Dsbnya. Karena bukankah semua anggaran negara ini datangnya dari rakyat dan kemudian dikembalikan kepada rakyat? Wah “serem” nih bahasanya, maaf ini bukan nyerempet ke politik (ga ngerti saya yang begitu). Oleh karena itu agar mereka tahu maka data-data cq data SIM PAUDNI ini kudu juga perlu dipublikasikan. Khusus untuk SKB cq UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar dimana saya bekerja dan bertugas mempublikasikannya. Tentang mempublikasikan data-data ini agar diketahui oleh pengambil keputusan dan kebijakan serta masyarakat, jujur saja memang ada berbagai kendalanya. Rasanya tidak enak rasanya menyinggung hal ini karena disetiap workshop dan pelatihan yang saya ikuti para penyelenggara bilang jangan anggaran dijadikan alasan untuk pendataan serta penyebarannya ke penentu dan pengambil kebijakan maupun masyarakat yang akan menjdi sasaran didik program. Misalnya pendataan SIM PAUDNI tahun 2012 ini sangat berbeda dibandingkan misalnya dengan tahun-tahun sebelumnya (Tahun 2010. Tahun 2011 sempat vacum dalam mengelola data dan belum jelas dimana pangkalan dan data center PNFI ini dikelola) selalu dianggarkan. Sedangkan untuk tahun 2012 ini (maaf) belum jelas dianggarkan. Bahkan dalam benak saya sempat berpikir bahwa pendataan SIM PAUDNI ini sudah tidak ada lagi untuk SKB dan sudah ditangani oleh sektor lain misalnya Dinas Dikpora Kabupaten/Kota. Terlepas siapa yang menjadi leading sektor dari data dan pendataan SIM PAUDNI tahun 2012 dan tahun-tahun mendatang, tugas saya dan juga teman-teman di SKB-SKB di Bali dan NTB adalah menyiapkan data ini karena format/blangko data untuk itu sudah kami terima dan ─harus─ diisi. Kembali kemasalah jenis data yang mesiki disuguhkan kepada mereka yang membutuhkan informasi tentang lembaga ini. Selain data-data angka serta tabel-tabel dan grafiknya disertai deskripsinya sehingga tidak mentah dan dapat “berbicara”. Kemudian tidak cukup sampai disana saja, tapi terekpos, terpublikasikan sampai ketangan para penentu/pengambil keputusan/kebijakan juga kemasyarakat. Dipasang di setiap SKB yang mpunya data baik data-data angka serta tabel-tabel dan grafiknya yang sudah dideskripsikan. Selain itu juga data-data berupa gambar dengan segala olahannya yang menarik sehingga layak dikonsumsi dan enak dipandang mata. Misalnya bebentuk poster, baliho, benner, leaflet, booklet dsbnya. Mengenai hal ini, para pembimbing kami dari BPPAUDNI Regional V sepintas pernah memberikan pelatihan tentang membuat leaflet dan poster di Hotel Mataram Raya (?) tahun 2010 lalu. Kemudian pada kunjungan mereka ke SKB Kota Denpasar bulan berikutnya, saya selaku pengelola SIM PAUDNI (waktu itu masih SIM PNFI) ditagih “PR” tentang leaflet dan poster yang dibuat. Belakangan pada pertemuan worshop di Hotel Jayakarta Kuta 13 sd. 15 September 2012 serta worshop peningkatan kualitas operator SIM PAUDNI di Hotel Cakra Bali Tohpati Denpasar tanggal 23 sd 25 september 2012 kembali disinggung tentang pempublikasian SKB dengan membuat laflet, poster serta buletin. Bagi saya pribadi, media-media seperti leaflet, poster, dan buletin itu mengingatkan saya akan masa lalu saya yakni semenjak saya pertama kali bekerja di SKB ini tahun 1984 (dulu SKB Kesiman) sampai di tahun 2000 menjelang otonomi daerah. Tugas saya ya membikin leaflet, poster dan booklet. Bahkan khusus utuk booklet saya malah “berpetualangan" sampai beberapa kali ke BPPNFI Surabaya (waktu itu di tahun 1995-1998 masih BPPLSP Surabaya). Bahkan pada tahun 1993 saya malah diajak oleh Bidang Dikmas Kanwil Depdikbud Propinsi Bali ke Balai Dikmas Ungaran Semarang dalam rangka penyusunan Booklet pendidikan luar sekolah selama 1 minggu. Dengan demikian, jenis media-media yang disebutkan tadi itu adalah jenis media cetak yang bagi saya (dalam hati berpikir) kok kembali ke masa lalu? Bukannya mesti ditinggalkan, hanya saja di era serba digital ini rasanya saat ini apa tidak sebaiknya kita menggunakan dan memanfaatkan media digital ini sebagi media penyebaran informasi program-program SKB ke masyarakat dan juga penentu pengambil keputusan dan kebijakan ini via media digital ini? Pengalaman saya pribadi tentang media-media cetak tersebut rasanya kurang efektif dan efisien dalam ─baik─ penggunaan/pemanfaatannya dan penyebarannya ke publik. Mungkin beda kali dengan BPPAUDNI Regional V Mataram yang pendanaan untuk media –media jenis ini dibandingkan kami di SKB terutamanya SKB Kota Denpasar. Dari semenjak saya menangani/mengelola media cetak jenis ini, saya selalu tidak bisa menampilkan bentuk yang lux/mewah denga cetakan yang baik. Hal ini sekali lagi karena masalah anggaran untuk media ini di SKB kami ini kurang mendukung karena sangatlah kecil. Bahkan terkesan hanya sekedar dan bukan hal yang penting. Sehingga saya yang ditugaskan mulai dari mengisi/menulis, melayout, memfotocopy, bahkan memasukkannya ke amplop lalu mendristribusikan baik ke Desa-desa di wilayah kerja SKB Kota Denpasar sampai mengirimkannya lewat kator Pos, semuanya saya kerjakan sendiri. Hal ini saya lakukan karena kecilnya anggaran serta tentu merasa tidak enak kalau meminta teman-teman mengirimkan tulisan utuk dimuat di buletin karena tidak mampu memberi honor. Sedangkan kalau tidak diterbitkan karena anggaran yang kecil ini tentu suatu hal yang kurang baik. Mengembalikan anggaran ke pemerintah? Dampaknya pada anggaran berikutnya tidak baik. Terpaksalah diterbitkan dengan segala keterbatasan. Selanjutnya, selain budaya membaca, juga kurangnya budaya menilis dikalangan masyarakat kita. Jangankan masyarakat awam, terutama sekali dikalangan akademik dan para intelektual kita budaya menulis ini sangat rendah. Sekarang amati dijajaran kita saja, berapa insan PNF sih yang suka menulis? Berapa orang Pamong Belajar Bali dan NTB yang suka menulis diantara puluhan jumlah mereka tersebar di lembaga-lembaga PNFI Bali-NTB? Berapa Pamong Belaja yang mengirim tulisan ketika BPPUADNI Regional V mengundang mereka untuk mengisi Buletin terbitannya? Dapat dihitung dengan jari. Bahkan diiming-imingi honor pun belum juga membludak yang mengirimkan tulisannya. Padahal honornya lumayan lho (saya bisa bilang begitu karena tulisan saya pernah dimuat dan honornya lumayan sekitar 1 juta rupiah dipotong pajak). Kembali lagi ke masalah diatas tentang pengelolaan buletin dan media cetak di SKB Denpasar, dimana sampai pengirimannya (waktu itu mengirim barang cetakan untuk dinas via kantor POS belum dikenai biaya) terpaksa saya lakukan. Demikian yang pernah saya alami dalam mengelola media cetak di SKB ini baik itu leaflet, booklet, poster, dan buletin. Banyak suka dukanya dan yang paling bikin penasaran dan belum juga puas sampai saat ini adalah tampilannya yang “katrok” serta pendistribusiannya yang kurang efisien dan efektif. Nah, sekarang ini kembali saya disarankan lagi membuat poster, leaflet, buletin oleh BPPAUDNI Regional V cq bagian seksi informasi. Saya jadi teringat awal-awal karier saya di PNS lagi. Sedangkan disisi lain, saat ini kita sudah berada di era digital. Mengapa kita tidak fokuskan saja media ini ke media digital ? Bagi saya probadi, ternyata media digital ini jauh lebih mudah membuatnya, lebih murah pembiayaannya, lebih gampang penyebarannya, dan tentunya sangat efektif dan efisien serta mendunia dalam hitungan detik. Coba saja, disaat-saat sulitnya saya membuat media yang berbasis cetak karena tiadanya dukungan finansial di SKB ini, otak saya jadi berputar dan kretivitas jadi muncul karena tantangan situasi dan keterbatasan finansial. Bukankah selaku Pamong Belajar termasuk juga sebagai operator SIM PAUDNI ini kita dituntut menjadi insan-insan yang selalu berpikir, berbuat, berkreatif dan berinovatif? Bertolak dari pikiran tersebut, saya kemudian membuat blog (sebagai salah satu bentuk media digital pengganti media cetak buletin), dan juga membuat Facebook. Membuat media pandang dengar/audio-visual. Untuk hal ini karena keterbatasan peralatan pendukungnya maka kami menggunakan kamera digital baik untuk foto maupun vidio. Foto-foto berbagai program kegiatan SKB ini saya pasang di FB. Dalam bentuk berita dan foto saya muat di blog. Sedangkan dalam bentuk audio-visual saya upload dan pakai web vidio terkenal YouTube. Nah demikianlah semua unsur-unsur jenis media itu lengkap saya buat di dunia maya. Dan last but not least, semuanya gratis tis tis! Hanya bermodalkan peralatan seadanya yang dimiliki SKB Kota Denpasar ini plus komputer yang ada sambungan internetnya (menggunakan speedy bantuan Disdikpora Kota Denpasar) maka tertayangkanlah semua aktivitas SKB kami ini. Selain gratis, tidak ribet, hemat, praktis dan mendunia pula dalam sekejap. Saya hanya tinggal nongkrong di depan komputer lalu berkreasi tak terbatas. Membuat media cetak? Bukannya tidak perlu dan ketinggalan jaman, tapi bukan rencana program yang utama. Yang paling penting bagaimana upaya seorang operator SIM PAUDNI ini sebagai bagian tugasnya untuk memasyarakatkan berbagai bentuk datanya ini kehadapan para penentu/pengambil keputusan dan kebijakan ini serta kepada masyarakat dapat tercapai. Sedangkan pertimbangan lainnya selain murah adalah mengingat bangsa kita ini, suka tidak suka mendengar dan mengetahuinya, mereka ini kurang suka budaya baca demikian juga menulis. Mereka lebih tertarik dengan budaya melihat dan mendengar. Ketika kita masih kecil saat menjelang tidur, kita lebih suka dan tertarik MENDENGARKAN orang tua kita mendongeng. Kemudian pada masa-masa berikutnya, peran orang tua dalam mendongeng digantikan oleh peran alat elektronik audio. Misalnya mendengarkan dongeng-dongeng dalam drama radio seperti yang paling digemari masyarakat adalah SATRIA MADANGKARA, TUTUR TINULAR, MISTERI GUNUNG MERAPI dsbnya. Begitu membuat masyarakat ketagihan dan tergila-gila menunggu saat-saat disiarkannya dongeng-dongeng tsb bahkan sampai meningalkan pekerjaannya. Masa-masa itu lewat kemudian digantikan oleh peran audio-visual alias televisi. Masyarakatpun tergila-gila dengan berbagai tayangan dongeng seperti sinetron MARIA MERSEDES, sinetron TERSANJUNG dsbnya. Kemudian sejalan dengan kemanjuan dunia Informasi Teknologi, masyarakat kita memasuki era digital INTERNET. Dalam masa ini masyarakat pun berperan bukan hanya jadi subjeknya tapi lahirnya media interaktif. Masyarakat bukan lagi sebagai penikmat saja seperti dalam bentuk media-media elektronik sebelumnya namun juga ikut berperan dan menentukan. Masyarakat kita bukan lagi menjadi subjek pemberitaan tapi malah dapat membuat berita bagi dirinya maupun orang lain. Munculah fenomena seperti Youtube. Misalnya lipsing ala SINTA DAN JOJO dengan KEONG RACUNNYA. BRIPTU NORMAN KAMARU dengan Vidio Lipsingnya juga di YouTube “Chaiya-chaiya” nya yang menggemparkan. Semua fenomena tayangan di dunia maya itu sungguh sensasional dan membuat pelakunya terkenal selain mengubah masa depannya menjadi populer dan secara ekonomi sangat baik. Nah, bukankah fenomenal ini seharusnya dengan cepat kita tangkap dan manfaatkan? Jadi, mengingat masyarakat kita KURANG MEMILIKI BUDAYA BACA (juga budaya menulis) dan lebih tertarik dengan BUDAYA MELIHAT DAN MENDENGAR mempertimbangan hal-hal tersebutlah maka saya lebih cenderung dan tertarik mempublikasikan semua program SKB kami ini ke media digital. Dalam pengamatan saya sehari-hari di SKB Kota Denpasar, masyarakat yang datang ke SKB ini lebih tertarik menghampiri pemasangan data dengan media gambar dan foto misalnya baliho yang terpampang di lobby. Sedangkan media data berupa angka-angka serta grafiknya tidak diharaukan sama sekali. Demikian pula buku-buku, bahkan buletin kiriman BPPAUDNI pun tidak ada yang membacanya termasuk para pamong belajarnya! Demikian pula setiap ada warga masyarakat yang datang ke SKB kami untuk mendaftarkan diri ikut pendidikan kesetaraan, saya selalu bertanya, “Darimana Anda tahu bahwa di SKB kami ini melaksanakan Pendidikan Kesetaraan?”. Sebagian besar dari mereka menjawabnya, “Dari Internet Pak !”. Nah, jawaban-jawaban dari masyarakat yang datang ke SKB Kota Denpasar ini menjadi indikasi bahwa mempublikasikan data-data SKB in akan jauhi lebih efektif dan efisien melalui media digital dibandingkan media cetak. Kami bahkan sering mendapatkan telepon dari anggota masyarakat yang secara geografis letaknya sangat jauh dari Kota Denpasar. Misalnya dari Kabupaten Badung, Gianyar, Klungkung dsbnya di Bali. bahkan juga luar Bali dan Luar Negeri seperti Orang Indonesia yang bekerja di Thailand dan terakhir pertengahan September 2012 ini dari Abudabi. Saya masih ingat namanya yaitu Made Mawa. Mereka semua tahu informasi tentang SKB ini dari Internet ! Selain itu, saya juga terinspirasi dari tayangan-tayangan iklan di televisi-televsi Indonesia. Dengan vidio iklan yang durasinya sangat pendek bahkan hitungan detik saja sangat mempan memikat hati pemirsa TV. Mengapa tidak saya coba saja mempublikasikan program-program SKB Kota Denpasar yang sedang berjalan dan sudah dilaksanakan? Bukankah ada media audio-visual di Internet yang gratis? Bertolak dari pemikiran yang tiba-tiba menyelinap dibenak itulah maka sejak tahun 2010 saya berinisiatif membuat vidio pendek mengenai program-program SKB ini dan mempublikasikannya via blog, facebook serta menguploadnya ke YouTube. Sekali lagi, bukan mengecilkan peran media cetak seperti leaflet, poster, buletin dll tsb, hanya sebagai pendukung masih diperlukan (sejalan dengan waktu, perkembangan zaman dan kemajuan IPTEK maka media-media cetak tsb akan kian ditinggalkan. kalau tidak dari sekarang memulainya, kapan lagi? Tapi bagi kami di SKB Kota Denpasar yang dari tahun ke tahun selalu kurang didukung anggaran yang memadai untuk jenis-jenis media cetak ini, kami lebih tertarik mempublikasikannya via media digital. Bukankah seperti kata pepatah Tiada Rotan Akar pun jadi? Tapi bagi saya malah sebaliknya menjadi Tiada Akar ya Rotan aja pakai. Gratis serta efektif lagi. Gitu aja kok repot?

Rabu, 26 September 2012

PEMBUKAAN PROGRAM PERCONTOHAN KURSUS DAN PELATIHAN TAHUN 2012

Pembukaan Program Percontohan Kursus Dan Pelatihan Tahun 2012 dilaksanakan pada hari Senin tanggal 24 September 2012. Program-program percontohan yang dibuka secara bersamaan tersebut antara lain P2TK (Guru Inti PAUD), Percontohan PAUD Terpadu, Tata Kecantikan Kulit Tingkat Dasar, Kursus dan Pelatihan Membordir, dan KUM (Keaksaraan Usaha Mandiri). Pembukaan ini bersifat simbolis karena program-program tersebut sudah dilaksanakan oleh UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar. Kegiatan ini dibuka oleh Kadis Dikpora Kota Denpasar Ir. I Gst. Ngr. Edy Mulya, SE. M.Si. hadir dalam acara ini sebagai undangan antara lain: Kabid PLS Disdikpora Kota Denpasar, Kasi PLS Disdikpora Kota Denpasar,Kasi PAUD Disdikpora Kota Denpasar, Kepala UPT Dinas Dikpora Kecamatan Denpasar Timur, Utara, Barat, dan Selatan serta Kepala UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar sebagai tuan rumah. Pada acara ini Bapak Kadis Dikpora Kota Denpasar diberikan suatu kejutan oleh panitia dengan merayakan hari ulang tahun beliau. Dalam pembukaan ini semua peserta didik kursus dari semua program kegiatan ini hadir. Acara yang dibuka pada jam 19.00 wita berakhir pada jam 21.00 wita. Acara diakhiri dengan pemantauan semua program UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar yang pada saat itu sedang berlangsung antara lain Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C. Kursus-kursus antara lain: Kursus Tata Kecantikan Kulit Tingkat Dasar, Kursus dan Pelatihan Membordir, serta juga melihat dan menyaksikan Kursus dan Pelatihan membuat Penjor Dekorasi (meski program yang ini adalah BOP (Bantuan Operasional Pendidikan) yang diberikan kepada Pendidikan Kesetaraan paket C Tahun 2012 dari Disdikpora Propinsi Bali cq Bidang Dikmen (smt).

Sabtu, 22 September 2012

KURSUS DAN PELATIHAN MEMBORDIR

PKH (PendidikanKecakapan Hidup) untuk tahun 2012 adalah Kursus dan Pelatihan Membordir. Kursus dan Pelatihan Membordir ini sudah dilaksanakan pada penghujung bulan Agustus 2012. Adapun persyaratan untuk mengikuti kursus ini adalah pendidikan serendah-rendahnya SMP dan tinggal di Kota Denpasar (dengan memperlihatkan KTP). Sasaran pesertanya sebanyak 30 orang. Kegiatan ini dilaksanakan dalam 45 kali pertemuan. Sesuai dengan pola dan konsep pendidikan non formal maka jadwal kursus dan pelatihan membordir ini ditentukan oleh para peserta karena sebagian besar mereka adalah orang-orang yang sudah bekerja. Namun untuk jam nya dimulai pukul 17.00-20.00 wita. Tempat kursus dan pelatihan ini di lab bordir UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar. Adapun nara sumbernya adalah saudara Adzan Riyanto yang selalu menjadi langganan SKB Kota Denpasar untuk Pelatihan atau kursus membordir. Rencananya semua kursus yang telah dilaksanakan oleh UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar akan dibuka secara serentak pada hari Senin tanggal 24 September 2012 jam 17.00 wita. Kursus-kursus yang telah dilaksanakan itu antara lain : 1) PAUD Terpadu, 2) P2 TK (Guru Inti PAUD) 3) Kursus Tata Kecantikan Kulit Tingkat Dasar, 4) Kursus dan Pelatihan membordir serta 5) Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM).

Jumat, 21 September 2012

OUTBOND PAUD “HARAPAN BANGSA”

Outbond PAUD “Harapan Bangsa” UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar dilaksanakan di Pantai Sanur di depan Hotel Grand Bali Beach pada hari jumat tanggal 21 September 2012. Kegiatan dimulai jam 07.30 wita ssampai 09.30 wita. Sasaran outbond PAUD ini adalah usia 3-4 tahun, 4-5 tahun dan usia 5-6 tahun (serta kelompok bermain dan TK). Outbond ini merupakan ini merupakan implementasi dari pada kegiatan proses pembelajaran yang ada kaitannya dengan pengenalan dengan lingkungan dan alam, sarana transportasi serta objek wisata yang ada di Kota denpasar. Oleh karena itu sangat tepat dilaksanakan di pantai sanur yang notabene adalah salah satu objek wisata dunia yang ada di Kota Denpasar. Adapun acaranya antara lain : 1. Bermain bersama 2. Lomba tarik tambang 3. Ramah tamah antara KPO (Kelompok Pemberdayaan Orang tua peserta didik), tenaga pendidik PAUD, dan Pamong Belajar SKB Kota denpasar. Acara ditutup dengan memberikan hadiah kepada para pemenang lomba sebagai motivasi serta pengembira (smt).

Kamis, 20 September 2012

KETERAMPILANMEMBUAT PENJOR DEKORASI UNTUK PAKET C KELAS X

Sebelumnya perlu kami jelaskan apakah penjor itu dan untuk apa masyarakat (di Bali) membuat penjor? Dibawah ini ada beberapa penjelasan tentang makna penjor serta fungsi dan filosopi dibaliknya. MAKNA PENJOR Kalau lagi jalan-jalan di Bali saat ada perayaan agama, mungkin Anda akan sering menyaksikan parade indah penjor di depan rumah penduduk atau juga di jalanan yang Anda lewati. Penjor biasanya dipasang 2 hari atau sehari sebelum pelaksanaan upacara seperti Galungan dan upacara yang di pura-pura desa. Penjor dalam tradisi lokal diyakini sebagai perlambang Gunung, tempat yang tertinggi dan sebagai tempat bersemayam para dewa dan kekuatan suci. Segala pala bungkah- pala gantung dan sesajen pada sanggah penjor, melambangkan persembahan terhadap Bhatara di Gunung Agung (Bhatara Giri Putri). Seperti kita ketahui, Gunung adalah sumber dari kesuburan dan akhirnya ke kemakmuran. 1. Hanya penjor yang menggunakan unsur lengkap (sanggah, padi, pala bungkah dan sebagainya) dapat dipergunakan dalam upacara keagamaan menurut fungsinya. 2. Penjor untuk dekorasi (bukan Upacara keagamaan) tidak diperbolehkan mempergunakan unsur- unsur tersebut di atas, tetapi hanya menggunakan hiasan- hiasannya saja (bila dengan sampian hendaknya tanpa porosan). Penjor sama dengan penyejer bagi orang yang akan melakukan yadnya suci Mawidhi Widana. Kalau dalam zaman sekarang sama dengan bendera Merah Putih yang melambangkan kemerdekaan, merdeka dalam artian tidak ada lagi yang merintangi atau melarang untuk melaksanakan yadnya suci (kemerdekaan/kemenangan Dharma melawan Adharma). Bahan penjor dari bambu, yang melambangkan tingkah atau cara menuntun pelaksana, apa yang akan diunggulkan, itu yang dimuat/digantung di penjor. Bambu untuk penjor ujungnya tidak ada yang dipotong supaya tidak bermakna tiying tunggul karena kegunaan dan kekuatannya berkurang. Dalam menancapkannya diharapkan batangnya lurus, ada ruas pada ujung bawah dan menancap ke tanah. Ini bermakna, dalam beryadnya atau dalam mengadakan suatu aktivitas mesti berdasarkan kemantapan (metu saking manah/pekayun) tur metulis ring lontar/buku, supaya tujuan yadnya tercapai. Bambu penjor dibungkus ambu (daun enau muda) berwarna kuning, melambangkan keheningan kayun dan sampian melambangkan kesampaian kayun/tercapai tujuan dan kain putih melambangkan ketah (lumrah). Sanggah yang di atasnya bundar merupakan perwujudan gunung. Gunung ika ngaran giri, giri ika ngaran griya untuk mendalami pengetahuan di bidang kewikuan. Sanggah yang di atasnya segi tiga melambangkan Tri Sakti/Tri Wisesa, lambang tiga keprabuan yaitu Brahma, Wisnu, Siwa. Sumber : I Nyoman Wirta, Jl. Siulan, Perum Karya Samia Penatih I, Blok C 38 Denpasar, Balipost 27 Okt 2001 Umat Hindu dari jaman dahulu sampai sekarang bahkan sampai nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa memakai symbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa yaitu sebagai pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memakai simbol, bangsa pun memakai simbol-simbol. Bentuk dan jénis simbol yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama. Dalam upakara terdiri dari banyak macam material yang digunakan sebagai simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, dimana makna tersebut menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana. Masyarakat di Bali sudah tidak asing lagi dengan penjor. Masyarakat mengenal dua jenis penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di pura-pura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll. Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “Penjor”, yang dapat diberikan arti sebagai, “Pengajum”, atau “Pengastawa”, kemudian kehilangan huruf sengau, “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata, “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian, ”Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa”. Umat Hindu di Bali pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor Pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit. Tujuan pemasangan penjor adalah sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain adalah merupakan wakil-wakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa. Penjor Galungan adalah penjor yang bersifat relegius, yaitu mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan, dan wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya. Dilihat dari segi bentuk penjor merupakan lambang Pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Hiasan-hiasan adalah merupakan bejenis-jenis daun seperti daun cemara, andong, paku pipid, pakis aji dll. Untuk buah-buahan mempergunakan padi, jagung, kelapa, ketela, pisang termasuk pala bungkah, pala wija dan pala gantung, serta dilengkapi dengan jajan, tebu dan uang. Oleh karena itu, membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja, namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama, sehingga tidak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan symbol-simbol suci, sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda, sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama. Unsur-unsur pada penjor merupakan simbol-simbol sebagai berikut: - Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara. - Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma. - Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra. - Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa. - Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara. - Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu. - Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu. - Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa. - Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa. Didalam Lontar “Tutur Dewi Tapini, Lamp. 26”, menyebutkan sebagai berikut : “Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha, Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala, Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan, Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading, Hyang Sangkara Meraga Phalem, Hyang Sri Dewi Meraga Pari, Hyang Sambu Meraga Isepan, Hyang Mahesora Meraga Biting (IB. PT. Sudarsana, 61; 03) WHD No. 478 Nopember 2006. Untuk melestarikan budaya Bali maka para peserta didik paket C kelas X tahun ajaran 2012/2013 diberikan keterampilan membuat penjor dekorasi. Keterampilan membuat penjor ini diikuti oleh 64 orang peserta didik. Adapun beaya penyelenggaraan kegiatan ini menggunakan APBN yang disalurkan melalui Dinas Dikpora Propinsi Bali cq Bidang Dikmen yakni BOP (Bantuan Operasional Pendidikan). Kegegiatan keterampilan membuat penjor dekorasi ini dilaksanakan dalam 15 kali pertemuan dimulai Kamis tanggal 20 September sampai dengan 30 September 2012. Kegiatan dimulai pada jam 17.00 wita sampai dengan 20.00 wita mulai hari Kamis sampai Minggu. Nara sumber dari keterampilan membuat penjor dekorasi ini adalah I Nyoman Budiantara asal Banjar Tembau Kaja Penatih Denpasar Timur. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala UPT SKB Dinas Dikpora Kota Denpasar Ni Made Sugiantini, S.Pd. M.Pd.H (smt).

ORTEK GURU INTI PAUD KOTA DENPASAR 2012

Orientasi Teknis (ORTEK) Guru Inti PAUD se Kota Denpasar dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 September 2012. Ortek diikuti oleh 10 orang Guru Inti PAUD Kota Denpasar yang telah lulus seleksi. Dalam ortek ini para Guru Inti PAUD diberikan pembekalan sebelum mereka “terjun” ke lapangan untuk membina para Guru PAUD di Kota Denpasar. Adapun materi yang diberikan dalam ortek ini antara lain: 1. Konsep Dasar PAUD, 2. 5 Aspek Perkembangan anatara lain: 1) Perkembangan Moral Agama dan Strategi Pengembangannya. 2) Perkembangan Sosial Emosional dan Strategi Pengembangannya. 3) Perkembangan Kognitif dan Strategi Pengembangannya, 4) Perkembangan Bahasa dan dan Strategi Pengembangannya. 5) Perkemangan Motorik dan Strategi Pengembangannya. Nara sumber dalam ortek ini adalah Ni Made Kusuma wardani, SH. M.Pd.H dari UPT BPKB Propinsi Bali. Ortek dilaksanakan selaman 2 hari sampai Kamis 20 september 2012 (smt).